Sabtu, 19 November 2016

Aku dan Ruang Hampa (Sebuah Tulisan Pendek)

Tersungging senyum saat memandang deburan ombak dihadapanku. Laut begitu luas, tak ada batas. Tengadah keatas, awan - awan yang menggumpal layaknya permen kapas yang dijual di pasar malam beriringan entah kemana.
Pasir yg kududuki pun hangat, basah tapi hangat. Seperti orang gila, hanya duduk berjam - jam dengan berbotol - botol bir di tepi pantai sendirian. Apa yang sedang aku pikirkan, pun aku masih memilahnya. Entah pikiran mana yang saat ini ingin aku pikirkan. Mabuk? belum. Aku masih waras saat ini, masih bisa melihat lurus.
Waras? ya, waras. Keadaan bagaimana yang bisa dikatakan waras ? Kewarasan untuk setiap orang tak bisa kuukur. Apakah dia waras karena sudah berpakaian rapi? atau apakah dia waras karena berbicara dengan sopan dan manis? mungkin dia waras karena menjalani hidup dengan normal?
Normal? Apa yang diajarkan kehidupan tentang kenormalan? Siapa yang normal dan tidak normal? Sepertinya sekarang aku mulai terganggu dengan pikiran ini.
Anggap saja aku salah memikirkan apa yang harus dipikirkan.
Atau mungkin memang kewarasanku sedikit dipertanyakan.
Memandang jauh ke tengah samudra lepas kuakui membuat perasaanku lebih nyaman. Lihat laut tak memiliki tepi, tak berujung. Kadang tenang, tak jarang menerjang. Mengingat lagi kehidupan seperti laut, ya kan? Sesekali kehidupan begitu tenang, namun ada kalanya membuat tak menentu.
Kureguk minuman dibotol yang sedari tadi menemaniku. Kunyalakan sebatang lagi rokok dengan susah payah. Ya, hembusan angin ini membuat nyala api korekku menggigil. Kuhisap dalam, hembusan asap meliuk, menari kesegala arah.
Kemana arah takdir akan membawa langkahku? Aku tertawa, tertahan. Ya, kita sendiri yang menentukan kearah mana kita akan berjalan. Bukan takdir! Kita sendiri yang memilih tikungan mana yang kita lalui, kanan atau kiri.
Ya.. ya.. ya.. aku tau tak boleh menyalahkan takdir untuk airmata yang sudah mengalir. Aku tak boleh mengutuk nasib, yang memberiku kepedihan. Bukan, bukan nasib yang memberi pedih. Tapi pilihanku sendiri.
Aku pikir, orang - orang yang tertawa bahagia diluar sana sudah memilih hal yang tepat bagi hidup mereka. Ya, mereka tampak tertawa lepas. Sepertinya tidak ada beban.
Iri? pasti.. sangat iri bahkan. Bukannya aku tak tahu bagaimana rasanya tertawa. Aku sering tertawa. Bibirku yang tertawa. Hatiku? Apakah aku pernah benar - benar merasa bahagia? Bahagia karena tertawa atau tertawa karena bahagia? Ambigu.
Senja mulai merangkak pelan. Urat - urat langit pun memerah. Matahari sebentar lagi berpamitan dan membiarkan rembulan berjaga. Diiringi paduan suara jangkrik. Itu sebentar lagi, sementara aku masih disini memandang lautan lepas, hamparan pasir, sendiri.  Ya, aku SENDIRI!!
Tak ada yang ingin kesendirian. Namun aku meminangnya. Tanpa mas kawin, tak ada yang bisa kuserahkan. Kecuali diriku dan kehampaan. Jangan tanya apa yang aku miliki. Aku memiliki segalanya, keluarga, teman - teman, mata pencaharian dan kehampaan. Lagi - lagi hampa.
Tak pernahkan bersyukur? aku selalu bersyukur, bahkan untuk angin senja dingin yang menelisik di sela - sela rambutku saat ini. Namun, kekosongan ini tak bisa ketepiskan seperti menepis pasir yang menempel pada celana pendek kuning yang kukenakan.
Banyak hal yang aku paksakan, seperti berperang di dalam perutku. Rasanya tidak nyaman. Aku gamang akan apa yang  aku inginkan sesungguhnya. Seburam warna langit saat ini, sembunyikan semua cahaya.
Apa yang aku cari?
Apa yang aku perjuangkan?
Kemana aku berjalan?
Aku belum menemukan siapa diriku..
Meninggalkan pantai ini dan akan kembali lagi besok dan besok dan besoknya lagi.
Sampai aku bosan, sampai pasir yang aku duduki bosan, sampai hembusan angin ini bosan, sampai langkah kaki ku bosan.
Sampai aku bosan akan diriku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar