![]() |
| /hitamputihart.wordpress.com |
Betapa kuatnya dia, pikirku. Pasti beban hidupnya jauh lebih berat ketimbang keranjang yang dia bawa. Usianya pun tampak belum begitu senja. Namun terlihat jelas, garis - garis keras dikulit wajahnya.
Kututup laptop yang sedari tadi kubiarkan menyala tak tersentuh. Sambil memberi tanda pada pramusaji yang melintas, ku rapikan semua kertas yang berserakan di meja.
"Mbak, ibu - ibu itu sering jualan di luar sana ya?" tanyaku sambil menunjuk perempuan itu.
"ohh, ibu Oja. Iya mbak, memang setiap hari beliau berjualan disana. Kenapa mbk?"
Aku tersenyum, menggelengkan kepala lalu menyerahkan sejumlah uang pada si pramusaji.
Kututup laptop yang sedari tadi kubiarkan menyala tak tersentuh. Sambil memberi tanda pada pramusaji yang melintas, ku rapikan semua kertas yang berserakan di meja.
"Mbak, ibu - ibu itu sering jualan di luar sana ya?" tanyaku sambil menunjuk perempuan itu.
"ohh, ibu Oja. Iya mbak, memang setiap hari beliau berjualan disana. Kenapa mbk?"
Aku tersenyum, menggelengkan kepala lalu menyerahkan sejumlah uang pada si pramusaji.
Nama beliau ibu Seroja, orang - orang mengenal dan memanggil beliau Ibu Oja, setiap hari berjualan membawa sekeranjang jamu yang pastinya berat. Kenapa aku baru melihatnya sekarang? terlalu larut dalam lara ku sendiri. Berjam - jam, duduk di cafe dengan laptop menyala tanpa disentuh, meratapi betapa kejamnya garis takdir.
Sampai - sampai banyak hal yang terlewat begitu saja.
Sampai - sampai banyak hal yang terlewat begitu saja.
Semakin dekat, semakin terlihat gurat lelah di wajah sang ibu. Pakaiannya sederhana, khas penjual jamu dengan kebaya dan kain.
"Jamu nya beras kencurnya ada, bu?"
" Lha? kok minumnya beras kencur to? kayak wong cilik ae nduk? kunyit sirih bagus, biar suami tambah sayang."
Ujarnya lembut dengan logat jawa yang kental. Aku balas tersenyum.
" Saya belum ada suami, bu. Berkali - kali disakiti. "
Entah kenapa aku menjawab dengan lengkap. Tak berharap iba.
"Ora opo - opo ta nduk, cah ayu kayak koe. Pasti banyak yang antre. Nanti pasti ada yang cocok."
DEENG.. Serasa di tampar. Aku masih tersenyum.
"Iya, suwun bu doanya. Ibu sudah lama berjualan? bantu suami ya,Bu? "
Kali ini aku yang balik bertanya.
Raut wajah Bu Oja berubah, matanya menerawang. Lama dia terdiam.
"Saya hidup untuk diri saya sendiri, nduk. Untuk apa hidup berpasangan jika tidak dihargai?" Ibu Oja mengambilkan segelas jamu, beras kencur.
"Sebagai perempuan, kita harus kuat nduk. Jangan mengemis pada laki - laki. Laki - laki yang baik tidak akan membiarkan wanitanya mengais dan menangis." ibu Oja tersenyum dan mengelap tangannya.
Aku meneguk jamuku pelan. Seperti tertusuk.
"Bagaimana dengan kodrat wanita yang harus mengabdi dan melayani suami,bu?"
kutatap lekat wajah bu Oja, yang pasti sangat memesona pada masanya.
"Nduk, mengabdi dan melayani itu kewajiban kita sebagai wanita. Disayangi dan dihargai itu hak kita."
"lantas?" tanyaku lagi.
"Pengabdian ora untuk laki - laki yang ndak bisa menghargai arti pengabdian itu sendiri,nduk." Bu Oja menyeka bulir keringat di pipinya.
"Biarlah, kita mengiklaskan lelaki seperti itu, saat kita pergi dia baru akan sadar. Ojo meratapi nasib sebagai wanita. Wanita ndak lemah." lanjutnya.
Aku mengangguk pelan, meneguk sisa jamu digelasku.
"Iya bu.." jawabku pelan.
"Jodoh, hidup, dan mati sudah ada yang atur." Dia menatapku lembut.
Baru saja bertemu, Ibu Oja sudah bisa menenangkan sedikit gundahku.
"Jamu nya beras kencurnya ada, bu?"
" Lha? kok minumnya beras kencur to? kayak wong cilik ae nduk? kunyit sirih bagus, biar suami tambah sayang."
Ujarnya lembut dengan logat jawa yang kental. Aku balas tersenyum.
" Saya belum ada suami, bu. Berkali - kali disakiti. "
Entah kenapa aku menjawab dengan lengkap. Tak berharap iba.
"Ora opo - opo ta nduk, cah ayu kayak koe. Pasti banyak yang antre. Nanti pasti ada yang cocok."
DEENG.. Serasa di tampar. Aku masih tersenyum.
"Iya, suwun bu doanya. Ibu sudah lama berjualan? bantu suami ya,Bu? "
Kali ini aku yang balik bertanya.
Raut wajah Bu Oja berubah, matanya menerawang. Lama dia terdiam.
"Saya hidup untuk diri saya sendiri, nduk. Untuk apa hidup berpasangan jika tidak dihargai?" Ibu Oja mengambilkan segelas jamu, beras kencur.
"Sebagai perempuan, kita harus kuat nduk. Jangan mengemis pada laki - laki. Laki - laki yang baik tidak akan membiarkan wanitanya mengais dan menangis." ibu Oja tersenyum dan mengelap tangannya.
Aku meneguk jamuku pelan. Seperti tertusuk.
"Bagaimana dengan kodrat wanita yang harus mengabdi dan melayani suami,bu?"
kutatap lekat wajah bu Oja, yang pasti sangat memesona pada masanya.
"Nduk, mengabdi dan melayani itu kewajiban kita sebagai wanita. Disayangi dan dihargai itu hak kita."
"lantas?" tanyaku lagi.
"Pengabdian ora untuk laki - laki yang ndak bisa menghargai arti pengabdian itu sendiri,nduk." Bu Oja menyeka bulir keringat di pipinya.
"Biarlah, kita mengiklaskan lelaki seperti itu, saat kita pergi dia baru akan sadar. Ojo meratapi nasib sebagai wanita. Wanita ndak lemah." lanjutnya.
Aku mengangguk pelan, meneguk sisa jamu digelasku.
"Iya bu.." jawabku pelan.
"Jodoh, hidup, dan mati sudah ada yang atur." Dia menatapku lembut.
Baru saja bertemu, Ibu Oja sudah bisa menenangkan sedikit gundahku.
Ahh.. mengorbankan perasaan sendiri demi rasa cinta. Tidak salah, tapi sekarang aku merasa bodoh. Jika lelaki itu benar mencintai, dia akan menghargai dan menjaga perasaan wanitanya bagaimanapun itu. Pun seharusnya wanita bisa menyerahkan pengabdian dan cintanya pada lelaki yang mampu menggandeng tangannya dalam suka dan duka. Membuat satu sama lain tersenyum dan berjalan bersama. Memperjuangkan komitmen berdua.
Aku memeluk Bu Oja, menyerahkan selembar uang untuk membayar jamu yang sudah kunikmati.
"Suwun bu, besok saya datang lagi." bisikku dsambut senyum kecil si ibu.
"Suwun bu, besok saya datang lagi." bisikku dsambut senyum kecil si ibu.
Aku berjalan pelan meninggalkan bu Oja yang masih menunggu pembeli lain. Menekan sebuah nomer di Smartphone.
"Hai, aku ingin bertemu dan bicara sekarang. Tentang kita."
"Hai, aku ingin bertemu dan bicara sekarang. Tentang kita."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar