Selasa, 09 Mei 2017

Hargai Harga Mati #2

        Beliau masih duduk di bawah pohon ketapang agak jauh dari lalu lalang kendaraan, melayani penikmat jamunya dengan senyum hangat dan keramahan. Dibalik kebaya dan kain lusuhnya., tubuh yang mulai menua itu masih terlihat kuat. Tak satu keluhan pun muncul dari bibirnya yang tak pernah digincu, hanya merah batang daun sirih yang memberi sedikit rona disana. 
         Aku memperhatikannya dari sudut meja di kafe langgananku. Segelas irish  coffee dingin yang telah separuh habis kuminum menjadi saksi betapa hari ini membutuhkan sedikit udara yang lebih segar. Diluar udara sangat terik, aku lebih memilih menyejukkan badanku terlebih pikiranku dengan duduk termenung di dalam kafe yang sejuk karena pendingin udara. Aku disini menunggu, menanti sedikit lengangnya antrean pelanggan jamu si Mbok. Aku melirik bungkusan yang kuletakkan di atas meja. Mudah - mudahan kebaya - kebaya ini pas untuknya. Warna - warna yang kupilihkan lebih cerah dari yang biasanya beliau kenakan. Pasti ada tatapan menyelidik saat kuserahkan bungkusan ini nantinya. Apalagi saat beliau menyadari warna yang kupilihkan. Biarlah. 
         Pramusaji menghampiriku dengan senyumnya, seorang pria 25 tahunan dengan kumis tipis dan brewok kekinian. membuat wajahnya yang imut terlihat sedikit lebih dewasa. Walaupun aku tau dia ingin terlihat lebih macho.Apa daya, usahanya tidak terlalu berhasil. 
"Mau pesan apa lagi, Mbak?"
"Bill nya ya Mas, tolong." jawabku dengan seulas senyum yang menurutku cukup manis sehingga mampu membuat wajah pria itu memerah muda. Aku meninggalkan kafe itu dengan tatapan penasaran si pramusaji berkumis tipis.
        Si mbok tampak merapikan dan mencuci gelas - gelas kotor. Bahkan dia tidak menyadari kehadiranku. Aku duduk diatas bangku kecil di depannya.  Ibu Seroja atau yang lebih dikenal dengan bu Oja  namun aku memanggilnya si Mbok. Dalam bahasa Jawa, si Mbok biasa digunakan untuk memanggil sosok ibu. Ya, bu Oja memang sudah seperti sosok ibu bagiku walaupun belum lama mengenalnya.
"Oalah, cah ayu! Si Mbok kira siapa." Kata Si mbok sambil mengelap tangannya yang basah dan mengulurkannya padaku.
" Ono opo meneh ta? Itu wajah ditekuk koyok cuciannya si mbok. Lecek.. " Candanya sambil memperhatikan raut wajahku yang memang tidak bisa membohonginya. Aku hanya bisa menghela nafas, sketsa demi sketsa muncul dalam pikiranku.
            Aku pernah gagal dalam menjalani hubungan yang serius. Dimana kepercayaanku dikoyak paksa dengan penghianatan. Ya, aku dikhianati. Laki - laki itu menduakanku dengan gadis yang lebih muda. Bertahun - tahun berjuang demi dia tidak ada artinya. Kepercayaan pernah aku serahkan sepenuhnya. Tanpa ada rasa curiga sedikitpun, tak pernah aku membayangkan bahwa ada laki - laki yang tega menghianati pasangannya, apalagi yang telah berkorban banyak untuknya, mencintainya tanpa cabang. Bodoh, naif, ya itulah aku. Melihat putih dunia tanpa noda, padahal ribuan bercak mengotorinya. Mulai saat itu kepercayaanku runtuh, egoku hancur, pandanganku pada dunia berubah total. Aku mulai membenci sampai akhirnya mati rasa. Berbulan - bulan ada diantara peperangan hati dan otak. Aku mulai memaafkan dan melupakan.
           (to be continued)

        

Kamis, 01 Desember 2016

emang kenapa kalo gue single fighter??? (curhatan si emak)

Entah kenapa tergelitik buat nulis ini. Bukan untuk apa-apa sih. cuma pengen aja. Melihat banyaknya berita dan postingan tentang "janda" di sosmed.

Well, predikat janda emang sesuatu banget di kalangan masyarakat. Status janda bagi sebagian besar orang dipandang miring. Banyak kasak kusuk dan bahkan cemoohan dari orang - orang nyinyir. Terutama yang memandang orang dari status sosial di masyarakat. oh helllooo uda mau 2017 coy. Masih jaman mandang orang dari statusnya?

Ga ada perempuan dimanapun di dunia yang bercita - cita jadi janda. ya kaliii... hahaha.  Lebih enak masih punya lakik, ada yang kelonin tiap malem.. 😂😂
Lain cerita kalo pasangan kita meninggalkan karena menghadap sang pencipta 🙁🙁

Gue sendiri memilih untuk menjanda. Kenapa? ya karena gue ingin bahagia. Untuk apa punya pasangan jika harga diri dibantai dan disakiti. Gue salut banget sama perempuan yang masih bertahan dengan pasangannya walaupun disakiti. Entah karena memang benar - benar cinta atau hanya mempertahankan status dan risau tentang pandangan masyarakat. Itu hak mereka.

Gue sangat respect juga dengan perempuan - perempuan mandiri yang memilih hidup sendiri dan bahagia dengan caranya sendiri. Tidak perduli apa kata orang, karena mereka sendiri yang merasakan dan menjalani hidup mereka.

Nah ini nih, bagi orang - orang yang sering nyinyir. Perempuan yang memilih untuk hidup sendiri tanpa suami harus siap menanggung semua sendiri terutama biaya hidup dan anak. Kalo loe - loe pada masih ada suami yang menyokong, kami harus bekerja lebih keras. Tidak semua wanita single a.k.a janda demen morotin lakik orang ya. Jadi jangan disamain. Baru loe tau statusnya janda, loe mikir dia pasti perebut lakik orang. oh hellooo... pinter dikit. Dengan memilih status ini, perempuan yang cerdas sudah siap dengan segala konsekuensinya. Termasuk bekerja lebih keras dari perempuan lainnya.

Janda, apalagi yang memilih status ini karena tersakiti pasangan sebelumnya sangat lebih mengerti bagaimana rasanya pasangan berpaling. Sakit.. Gue aja sampai kurus. Gue pribadi sangat menghindari lakik yang masih berstatus suami orang. Jadi kalo loe punya pandangan semua janda suka rebut lakik orang, terserah loe  😂😂. Ga sedikit perempuan - perempuan lajang kekinian pun doyan lakik orang yang mapan lho. Demi mencukupi gaya hidup. Tanpa peduli si lakik punya anak istri yang penting isi dompet. Nah lho...

Jangan heran kalo kami lebih menggoda, dalam artian berpenampilan lebih menarik dari sebelumnya. Gue pribadi nih, sejak memilih menjadi single mom jadi lebih tenang dan lebih ringan karena semua beban rasanya hilang. Luka - luka dan sakit hati udah menguap. Jadi lebih happy, dan secara tidak langsung jadi bisa memperhatikan penampilan. Apalagi dulu, penampilan juga menjadi faktor kenapa gue bisa menyandang status ini sekarang.

Kembali lagi ke masing - masing individu. Membuka pikiran, wawasan dan pergaulan kita jadi lebih luas. Menilai orang dari kualitas diri bukan dari status sosialnya. Karena kita tidak tahu apa yang sudah mereka lewati.

Buat orang - orang yang nyinyir apalagi perempuan, yang masih lajang maupun yang sudah punya pasangan gue harap kehidupan asmara kalian berjalan sesuai kehendak kalian. Jadi, kalian tidak usah merasakan keseruan menjadi janda terutama janda muda seperti yang sering kalian cibir.

Roda kehidupan itu muter, kita tidak tau kapan dan apa yang akan terjadi nanti. Stay positive..

Sekali lagi, gue nulis ini cuma sekedar menyampaikan opini gue sendiri. Suka ga suka terserah yang baca..

yukm ahh cuus.. hujan2 mari merapatkan selimut. guling mana guling?? 😂😂😂

Sabtu, 19 November 2016

Aku dan Ruang Hampa (Sebuah Tulisan Pendek)

Tersungging senyum saat memandang deburan ombak dihadapanku. Laut begitu luas, tak ada batas. Tengadah keatas, awan - awan yang menggumpal layaknya permen kapas yang dijual di pasar malam beriringan entah kemana.
Pasir yg kududuki pun hangat, basah tapi hangat. Seperti orang gila, hanya duduk berjam - jam dengan berbotol - botol bir di tepi pantai sendirian. Apa yang sedang aku pikirkan, pun aku masih memilahnya. Entah pikiran mana yang saat ini ingin aku pikirkan. Mabuk? belum. Aku masih waras saat ini, masih bisa melihat lurus.
Waras? ya, waras. Keadaan bagaimana yang bisa dikatakan waras ? Kewarasan untuk setiap orang tak bisa kuukur. Apakah dia waras karena sudah berpakaian rapi? atau apakah dia waras karena berbicara dengan sopan dan manis? mungkin dia waras karena menjalani hidup dengan normal?
Normal? Apa yang diajarkan kehidupan tentang kenormalan? Siapa yang normal dan tidak normal? Sepertinya sekarang aku mulai terganggu dengan pikiran ini.
Anggap saja aku salah memikirkan apa yang harus dipikirkan.
Atau mungkin memang kewarasanku sedikit dipertanyakan.
Memandang jauh ke tengah samudra lepas kuakui membuat perasaanku lebih nyaman. Lihat laut tak memiliki tepi, tak berujung. Kadang tenang, tak jarang menerjang. Mengingat lagi kehidupan seperti laut, ya kan? Sesekali kehidupan begitu tenang, namun ada kalanya membuat tak menentu.
Kureguk minuman dibotol yang sedari tadi menemaniku. Kunyalakan sebatang lagi rokok dengan susah payah. Ya, hembusan angin ini membuat nyala api korekku menggigil. Kuhisap dalam, hembusan asap meliuk, menari kesegala arah.
Kemana arah takdir akan membawa langkahku? Aku tertawa, tertahan. Ya, kita sendiri yang menentukan kearah mana kita akan berjalan. Bukan takdir! Kita sendiri yang memilih tikungan mana yang kita lalui, kanan atau kiri.
Ya.. ya.. ya.. aku tau tak boleh menyalahkan takdir untuk airmata yang sudah mengalir. Aku tak boleh mengutuk nasib, yang memberiku kepedihan. Bukan, bukan nasib yang memberi pedih. Tapi pilihanku sendiri.
Aku pikir, orang - orang yang tertawa bahagia diluar sana sudah memilih hal yang tepat bagi hidup mereka. Ya, mereka tampak tertawa lepas. Sepertinya tidak ada beban.
Iri? pasti.. sangat iri bahkan. Bukannya aku tak tahu bagaimana rasanya tertawa. Aku sering tertawa. Bibirku yang tertawa. Hatiku? Apakah aku pernah benar - benar merasa bahagia? Bahagia karena tertawa atau tertawa karena bahagia? Ambigu.
Senja mulai merangkak pelan. Urat - urat langit pun memerah. Matahari sebentar lagi berpamitan dan membiarkan rembulan berjaga. Diiringi paduan suara jangkrik. Itu sebentar lagi, sementara aku masih disini memandang lautan lepas, hamparan pasir, sendiri.  Ya, aku SENDIRI!!
Tak ada yang ingin kesendirian. Namun aku meminangnya. Tanpa mas kawin, tak ada yang bisa kuserahkan. Kecuali diriku dan kehampaan. Jangan tanya apa yang aku miliki. Aku memiliki segalanya, keluarga, teman - teman, mata pencaharian dan kehampaan. Lagi - lagi hampa.
Tak pernahkan bersyukur? aku selalu bersyukur, bahkan untuk angin senja dingin yang menelisik di sela - sela rambutku saat ini. Namun, kekosongan ini tak bisa ketepiskan seperti menepis pasir yang menempel pada celana pendek kuning yang kukenakan.
Banyak hal yang aku paksakan, seperti berperang di dalam perutku. Rasanya tidak nyaman. Aku gamang akan apa yang  aku inginkan sesungguhnya. Seburam warna langit saat ini, sembunyikan semua cahaya.
Apa yang aku cari?
Apa yang aku perjuangkan?
Kemana aku berjalan?
Aku belum menemukan siapa diriku..
Meninggalkan pantai ini dan akan kembali lagi besok dan besok dan besoknya lagi.
Sampai aku bosan, sampai pasir yang aku duduki bosan, sampai hembusan angin ini bosan, sampai langkah kaki ku bosan.
Sampai aku bosan akan diriku.

Rabu, 09 November 2016

Hargai Harga Mati (Sebuah Cerita Pendek)

/hitamputihart.wordpress.com

Dia berjalan seorang diri. Ya, perempuan itu menyeret kaki nya melangkah. Keranjang yang digendongnya terlihat begitu berat. Sepertinya, rotan - rotan itu menyayat punggungnya. Wajahnya pun terlihat letih, sangat letih. Beberapa kali dia berhenti untuk sekadar menyeka buliran peluh yang menetes dibawah terik matahari siang itu.
Betapa kuatnya dia, pikirku. Pasti beban hidupnya jauh lebih berat ketimbang keranjang yang dia bawa. Usianya pun tampak belum begitu senja. Namun terlihat jelas, garis - garis keras dikulit wajahnya.
Kututup laptop yang sedari tadi kubiarkan menyala tak tersentuh. Sambil memberi tanda pada pramusaji yang melintas, ku rapikan semua kertas yang berserakan di meja.
"Mbak, ibu - ibu itu sering jualan di luar sana ya?" tanyaku sambil menunjuk perempuan itu.
"ohh, ibu Oja. Iya mbak, memang setiap hari beliau berjualan disana. Kenapa mbk?"
Aku tersenyum, menggelengkan kepala lalu menyerahkan sejumlah uang pada si pramusaji.
Nama beliau ibu Seroja, orang - orang mengenal dan memanggil beliau Ibu Oja, setiap hari berjualan membawa sekeranjang jamu yang pastinya berat. Kenapa aku baru melihatnya sekarang? terlalu larut dalam lara ku sendiri. Berjam - jam, duduk di cafe dengan laptop menyala tanpa disentuh, meratapi betapa kejamnya garis takdir.
Sampai - sampai banyak hal yang terlewat begitu saja.
Semakin dekat, semakin terlihat gurat lelah di wajah sang ibu. Pakaiannya sederhana, khas penjual jamu dengan kebaya dan kain.
"Jamu nya beras kencurnya ada, bu?"
" Lha? kok minumnya beras kencur to? kayak wong cilik ae nduk? kunyit sirih bagus, biar suami tambah sayang."
Ujarnya lembut dengan logat jawa yang kental. Aku balas tersenyum.
" Saya belum ada suami, bu. Berkali - kali disakiti. "
Entah kenapa aku menjawab dengan lengkap. Tak berharap iba.
"Ora opo - opo ta nduk, cah ayu kayak koe. Pasti banyak yang antre. Nanti pasti ada yang cocok."
DEENG.. Serasa di tampar. Aku masih tersenyum.
"Iya, suwun bu doanya. Ibu sudah lama berjualan? bantu suami ya,Bu? "
Kali ini aku yang balik bertanya.
Raut wajah Bu Oja berubah, matanya menerawang. Lama dia terdiam.
"Saya hidup untuk diri saya sendiri, nduk. Untuk apa hidup berpasangan jika tidak dihargai?" Ibu Oja mengambilkan segelas jamu, beras kencur.
"Sebagai perempuan, kita harus kuat nduk. Jangan mengemis pada laki - laki. Laki - laki yang baik tidak akan membiarkan wanitanya mengais dan menangis." ibu Oja tersenyum dan mengelap tangannya.
Aku meneguk jamuku pelan. Seperti tertusuk.
"Bagaimana dengan kodrat wanita yang harus mengabdi dan melayani suami,bu?"
kutatap lekat wajah bu Oja, yang pasti sangat memesona pada masanya.
"Nduk, mengabdi dan melayani itu kewajiban kita sebagai wanita. Disayangi dan dihargai itu hak kita."
"lantas?" tanyaku lagi.
"Pengabdian ora untuk laki - laki yang ndak bisa menghargai arti pengabdian itu sendiri,nduk." Bu Oja menyeka bulir keringat di pipinya.
"Biarlah, kita mengiklaskan lelaki seperti itu, saat kita pergi dia baru akan sadar. Ojo meratapi nasib sebagai wanita. Wanita ndak lemah." lanjutnya.
Aku mengangguk pelan, meneguk sisa jamu digelasku.
"Iya bu.." jawabku pelan.
"Jodoh, hidup, dan mati sudah ada yang atur." Dia menatapku lembut.
Baru saja bertemu, Ibu Oja sudah bisa menenangkan sedikit gundahku.
Ahh.. mengorbankan perasaan sendiri demi rasa cinta. Tidak salah, tapi sekarang aku merasa bodoh. Jika lelaki itu benar mencintai, dia akan menghargai dan menjaga perasaan wanitanya bagaimanapun itu. Pun seharusnya wanita bisa menyerahkan pengabdian dan cintanya pada lelaki yang mampu menggandeng tangannya dalam suka dan duka. Membuat satu sama lain tersenyum dan berjalan bersama. Memperjuangkan komitmen berdua.
Aku memeluk Bu Oja, menyerahkan selembar uang untuk membayar jamu yang sudah kunikmati.
"Suwun bu, besok saya datang lagi." bisikku dsambut senyum kecil si ibu.
Aku berjalan pelan meninggalkan bu Oja yang masih menunggu pembeli lain. Menekan sebuah nomer di Smartphone.
"Hai, aku ingin bertemu dan bicara sekarang. Tentang kita."

Selasa, 01 November 2016

Rindu Pun Gagu

kamu tau sering rindu tak mampu melagu
kamu tau kadang rindu membatu
kamu tau kadang rindu menjadi gagu
bersuara dia tak mampu
menarik narik huruf untuk dirangkai
hanya pada lidah terkulai
tak sanggup dia berandai
sering rindu sesatkan makna
bibir dan hatipun tak senada
tak ada kata cinta
dimenangkan prahara
bisakah kutarik kau kembali
atau kubiarkan kau pergi

Rabu, 12 Oktober 2016

Mencabut Bukan Membunuh, Menepikan bukan Mengubur

Hey gengs..
Lagi patah hati?
Baru putus cinta?

Apa yang kalian rasakan saat putus cinta? pasti rasa tidak terima, sedih, kecewa, ngejleb dalem, atau malah biasa aja. Tergantung pengalaman kalian patah hati ya pastinya. Buat kalian yang sudah malang melintang di dunia perpatah hatian.. Pastinya kalian bisa lebih menerima kenyataan, atau malah jadi frustasi atau trauma. Nah lho.. Kalo emak sendiri gimana hayo????

Patah hati saat baru putus itu biasa. Kita akan merasakan sedih karena kita terbiasa untuk saling berkomunikasi, sharing, tertawa, pergi bareng, makan bareng, kentut bareng.. oops..
Saat putus, sebagian dari kita masih berkomunikasi baik walaupun tidak se-intens saat berpacaran dan sebagian lagi bahkan tidak berkomunikasi sama sekali, semua account socmed di block. Hayoo kalian termasuk yang mana?

Kalau emak sendiri, lebih memilih masih berkomunikasi baik. Kenapa? kok bisa?
Memang perlu ketahanan dan kekuatan ekstra untuk masih berkomunikasi dengan mantan apalagi kalau putusnya menyakitkan. Perlu waktu untuk kita memaafkan dan merelakan apa yang terjadi. Memaafkan mereka yang menyakiti kita, memaafkan diri kita sendiri dan merelakan jika mereka harus pergi dari kehidupan kita.

Mencabut bukan membunuh.
Perasaan itu seperti pohon menurut emak, ada akar yang membuatnya tumbuh. Jika kita inginn melupakan, kita harus mencabutnya pelan sampai ke akar. Pelan - pelan jangan sampai ada yang tertinggal. Dengan memaafkan dan tidak menaruh dendam ataupun benci  Saat kita mencabutnya terlalu cepat dan keras mungkin saja masih ada sisa akar yang menempel. Membuat kita susah move on. Trus? kalau dibunuh gimana? Kalau dibunuh, nanti bisa gentayangan terus menghantui kalian. Saat kalian tidur, dia datang lalu tertawa seram. hihiihiiiiiiii.... mau?? ga kan... hahahhaa..

Menepikan bukan mengubur.
Perasaan itu jika dikubur bisa bangkit lagi lho. Saat tiba - tiba saja kalian teringat atau melihat sesuatu yang mengingatkan kalian tentang sang mantan. Bapeer dah bapeer...

Memang tidak mudah menepikan perasaan yang sudah ada. Apalagi jika perasaan itu tumbuh dengan perlahan, dari tiada menjadi bunga saat badai dan waktu terburuk. beuuhhhh... Biasanya yang kayak begini, walaupun sebentar pasti berkesan. Butuh waktu lebih lama untuk menepikan dan memberikan ruang untuk perasaan yang baru.

Give your heart a break 
Jangan terburu - buru mencari dan menumbuhkan perasaan yang baru. Berikan waktu hatimu untuk bernafas, walaupun lebih mudah melupakan jika ada keseruan dan petualangan baru.

Have fun 
Manjakan dirimu dengan melakukan hal - hal yang kamu sukai. Ga usah mahal sampai ke luar negeri atau luar angkasa. Kalo emak sih dikasi film horor terbaru atau mandangin pantai sambil ditemenin minuman dingin uda seneng banget. Balik lagi ke cara kalian masing - masing.

Masih banyak sih caranya menepikan perasaan..

Jangan galau lama - lama yah.. hehehe.. seperti biasa, ini hanya opini emak aja. ga usah ditanggepin serius.. cuuss..


Senin, 10 Oktober 2016

Suara - Suara Dalam Kepala

ini suara dalam kepalaku
mereka berdengung
meributkan kemana perginya kamu

ini suara dalam kepalaku
mereka bergumam
menanyakan hilangnya sedikit cahaya di mataku

ini suara dalam kepalaku
mereka berbisik
menyebutkan namamu pelan

ini suara - suara dalam kepalaku..
berdengung bergumam berbisik
sekarang suara itu meneriakkan kerinduan

suara - suara itu
menyampaikan apa yang tak bisa bibirku ucap
tentang rasa yang tak tersampaikan

tak ada harapan yang kugenggam lagi
kecuali bahagia dan senyummu
biarkan suara - suara itu menggangguku

tetaplah tersenyum
tanpa aku disana
tanpa kamu disini

saat nanti perasaan itu kembali
saat nanti rindu tak bisa dihempas
akan ada dua tangan yang saling menggenggam
kembali...